Berhentilah Merokok, atau Rokok "Memberhentikan" mu

Dari sebuah studi ditemukan bahwa biaya rawat inap pengidap penyakit akibat merokok mencapai Rp 2,9 triliun per tahun. Faktanya memang setiap tahun sekitar 200 ribu kematian di Indonesia diakibatkan kebiasaan merokok. Dan sekitar 25 ribu Perokok pasif.

Merokok dapat Merusak dan Membakar Paru-paru

Perhatikan Perbandingan Paru-paru Perokok dengan Non Perokok, Paru-paru Perokok Hitam dikarenakan tumpukan Nikotin yang ia masukkan setiap harinya. Ratusan bahkan Ribuan Racun-pun mengendap didalamnya melalui perantaraan asap yang ia Hisap. Dampaknya memang bukan saat ini, tetapi 30-50 tahun yang akan datang.

This is default featured post 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Rabu, 11 Januari 2012

22 Persen Perokok Pasti akan Mengalami Disfungsi Ereksi

Jakarta, Rokok sering dianggap suatu tren di dalam pergaulan. Bahkan laki-laki yang tidak merokok dianggap kurang gaul alias cupu. Padahal 22 persen dari perokok pasti akan mengalami disfungsi ereksi atau impotensi.

"Rokok termasuk hal yang tren, jadi orang-orang itu kalau dalam pergaulan yang lain merokok dia nggak merokok dianggap nggak gaul. Orang kalau tidak merasakan sakit dia nggak akan sadar atau nggak mau tahu kalau efek akan muncul. Sifat manusia kan cuek," jelas Dr. Johannes Soedjono, M.Kes., SpAnd, spesialis andrologi dari Unit Kesehatan Reproduksi/Andrologi RS AL Dr Ramelan, Surabaya, disela-sela acara National Symposium and Workshop on Sexology 2011 di Hotel Le Meridien, Jakarta, Jumat (28/10/2011)

Menurut Dr Johannes, meskipun sudah diberikan data bahwa merokok dapat menyebabkan disfungsi ereksi, tetap saja banyak masyarakat banyak yang merokok.

"Mungkin sekarang belum (disfungsi ereksi) tapi nanti pasti terasa. Sekitar 22 persen perokok pasti akan mengalami disfungsi ereksi. Jadi kalau ada 100.000 orang ya 22.000 akan mengalami gangguan ereksi nanti setelah 1 tahun," tegas Dr Johannes.

Dr Johannes menuturkan bahwa disfungsi ereksi terjadi lebih tergantung dari jumlah rokok yang dihisap per hari, bukan lama merokoknya.

"Jadi jumlah per batang per hari itu yang menentukan, kalau lamanya merokok itu tidak menentukan gangguan ereksinya tapi beratnya. Jadi kalau merokok 10 tahun peluang pulih (dari disfungsi ereksi) laginya semakin kecil. Karena pembuluh darahnya sudah kadung rusak. Tapi kalau dia merokok di bawah 5 tahun efek kerusakan belum besar, peluang pulihnya juga semakin besar," lanjut Dr Johannes.

Sasaran utama untuk target berhenti merokok menurut Dr Johannes adalah orang yang merokok antara 6-10 tahun, karena peluang untuk sembuhnya termasuk paling besar, yaitu 2,26 kali lebih besar dibandingkan orang yang sudah merokok diatas 10 tahun.

"Kerusakan belum parmanen, kasusnya sudah banyak, yang menderita sudah banyak, kemungkinan pulih cukup besar karena pembuluh darahnya belum rusak. Untuk perokok 5 tahun ke atas pasti merasa (gangguan ereksi). Yang 78 persen belum tentu, mungkin merokoknya tidak terlalu parah jadi belum merasakan, bukan lama merokoknya tapi jumlahnya," tutup Dr Johannes.
(mer/ir)

SUMBER

Racun Rokok Dalam Mobil 23 Kali Lebih Tinggi dari Bar

Jakarta, Racun dari asap rokok diketahui berbahaya bagi kesehatan. Tapi bagi orang yang suka merokok di dalam mobil sebaiknya menghentikan kebiasaan ini, karena racun rokok dalam mobil tertutup 23 kali lebih tinggi dibanding bar yang penuh asap rokok.

British Medical Association (BMA) menyerukan pada pemerintah untuk mengeluarkan peraturan larangan merokok dalam mobil. Hal ini karena tingkat racunnya 23 kali lebih tinggi dibanding bar yang penuh asap, sehingga menempatkan anak-anak, ibu hamil dan orang tua pada risiko tertentu.

BMA menuturkan anak-anak menyerap racun atau polutan lebih banyak dibanding orang dewasa, padahal sistem kekebalan tubuh yang dimilikinya belum matang sehingga kurang mampu mengatasi racun yang masuk sebagai perokok pasif.

Sedangkan orang tua yang rentan dengan masalah pernapasan bisa memperburuk kondisinya dengan menghirup asap rokok. Tingkat racun yang semakin tinggi jelas lebih bisa menimbulkan efek buruk bagi kesehatan, sehingga diperlukan peraturan yang ketat.

"Dokter melihat banyak kasus kesakitan dan kematian dini disebabkan oleh merokok dan perokok pasif. Untuk itu kami menyerukan untuk mengambil langkah berani melarang merokok di kendaraan termasuk mobil pribadi," ujar Dr Vivienne Nathanson dari BMA, seperti dikutip dari Dailymail, Kamis (17/11/2011).

Jika peraturan larangan merokok di dalam mobil bisa dilaksanakan, maka diharapkan nantinya juga bisa diterapkan larangan merokok di dalam rumah dan tempat-tempat lainnya sehingga mengurangi jumlah perokok pasif dan dampak buruk dari asap rokok.

"Merokok merupakan salah satu tantangan terbesar dan paling keras dalam kesehatan masyarakat. Kami memiliki rencana untuk membantu menurunkan tingkat rokok dan mengurangi bahaya dari tembakau selama 5 tahun ke depan," ujar juru bicara Departemen Kesehatan Inggris.

Berbagai studi mengenai rokok telah menjelaskan bahwa di dalam asap rokok mengandung lebih dari 4.000 bahan kimia racun (toksik) serta 43 senyawa penyebab kanker (karsinogenik).

Selain itu asap rokok bersifat lengket atau sulit dihilangkan, jadi bagaimana jadinya jika asap itu masuk ke dalam tubuh seperti paru-paru yang makin lama semakin banyak jumlahn
(ver/ir)

SUMBER

Gen Pengaruhi Keberhasilan Orang untuk Berhenti Merokok

Jakarta, Beberapa orang diketahui ada yang sulit sekali berhenti merokok atau berkali-kali gagal. Ternyata keberhasilan seseorang untuk berhenti merokok dipengaruhi oleh gen yang dimilikinya.

Studi menemukan pola gen tertentu mempengaruhi respons yang dihasilkan seseorang terhadap perawatan atau terapi yang diberikan untuk berhenti merokok, karenanya kemampuan seseorang untuk berhasil menghentikan kebiasaannya itu kemungkinan berhubungan dengan gen dalam tubuhnya.

Peneliti berhasil mengidentifikasi beberapa variasi genetik yang menunjukkan kemungkinan keberhasilan atau kegagalan dari terapi yang diberikan seperti terapi penggantian nikotin dan obat untuk berhenti merokok.

Dalam hal ini peneliti tidak menemukan gen tunggal yang berhubungan dengan merokok. Namun peneliti berhasil mengidentifikasi sejumlah gen berbeda yang semuanya berkontribusi dalam memberikan respons atau kemampuan seseorang untuk berhenti merokok.

Peneliti menganalisis DNA dari 550 perokok yang secara acak dibagi menjadi beberapa kelompok. Setiap kelompok menerima 1 jenis terapi seperto terapi penggantian nikotin, menerima obat antidepresi Zyban yang diketahui bisa membantu orang berhenti merokok serta keompok plasebo.

Didapatkan 41 varian gen yang terkait dengan keberhasilan perokok untuk berhenti dengan menggunakan terapi penggantian nikotin dan 26 gen spesifik yang mempengaruhi keberhasilan berhenti dengan menggunakan Zyban.

"Pesan anti-merokok, pajak yang lebih tinggi dan larangan merokok memang telah membuat perbedaan. Tapi mungkin ada hal lain yang bisa mempengaruhi yaitu genetika," ujar penulis utama studi Jason Boardman, seperti dikutip dari HealthDay, Jumat (2/11/2011).

Diharapkan dengan diketahuinya beberapa varian gen tersebut bisa membantu para perokok agar berhasil menghentikan kebiasaannya tersebut. Hal ini karena merokok dalam jangka waktu panjang bisa meningkatkan risiko berbagai penyakit.

SUMBER

Titus Bonai Tolak Bintangi Iklan Rokok Meski Dibayar Rp 10 M

Jakarta, Bintang sepakbola Indonesia yang tengah naik daun, Titus Bonai sangat anti terhadap rokok. Bukan cuma tidak doyan merokok, ia juga tak mau membintangi iklan rokok meski dibayar Rp 10 miliar.

"Puji Tuhan, akan saya tolak," kata Tibo, panggilan akrabnya saat ditanyai apakah tetap menolak jika bayaran sebagai bintang iklan rokok mencapai Rp 10 miliar, dalam jumpa pers di Yayasan Jantung Indonesia, Cikini, Jakarta, Kamis (24/11/2011).

Tibo, bintang sepakbola kelahiran Papua 4 Maret 1989 ini mengaku memang berasal dari keluarga yang bebas rokok. Orangtuanya sejak dulu memang tidak merokok, sehingga ia merasa malu kalau dirinya sampai kecanduan rokok.

Sama seperti Tibo, bintang sepakbola Indonesia lainnya yakni Octovianus Maniani alias Octo juga sangat antirokok. Meski ornagtuanya sendiri adalah perokok, ia merasa tidak perlu ikut-ikutan karena tahu bahwa asapnya tidak baik untuk fisiknya sebagai atlet profesional.

"Bagi seorang atlet, air lebih penting untuk tubuh kita. Kalau rokok malah merusak. Jadi sama seperti Tibo, saya juga tidak merokok. Kalau iklan rokok, berapapun (honornya) akan saya tolak," kata Octo.

Sementara itu, pengamat sosial Imam Prasodjo juga sependapat dengan kedua atlet muda berbakat yang sednag naik daun di Indonesia tersebut. Menurutnya, efek rokok sangat merusak generasi muda dan bahkan jauh lebih berbahaya dibandingkan serangan teroris.

"Teroris hanya membunuh 1 dari 5 juta orang. Bunuh diri hanya menyumbang 1 kematian di antara 10 ribu orang. Kematian yang terkait dengan sepakbola, hanya 1 dari 25 ribu orang. Tapi rokok, bisa membunuh 1 dari 200 orang," tegas Imam.

Mengenai sponsor rokok dalam event olahraga, sesepuh persepakbolaan Indonesia Arifin Panigoro mengaku optimistis pembinaan olahraga di Indonesia tetap bisa berjalan tanpa sponsor rokok. Menurutnya, perusahaan selain rokok juga banyak yang berminat menyeponsori.

"Bahkan selama ini banyak sponsor yang ingin masuk, tapi justru tidak jadi karena tidak mau disandingkan dengan iklan rokok," kata Arifin tanpa menyebutkan dengan lebih detail jenis sponsor yang dimaksud.
(up/ir)

SUMBER

Perokok Masa Kini Lebih Kecanduan dan Sulit Berhenti

Jakarta, Berhenti dari kecanduan rokok memang sulit dilakukan oleh perokok. Tapi studi baru menunjukkan perokok saat ini mungkin lebih addicted terhadap rokok sehingga lebih sulit untuk berhenti.

Studi menemukan perokok saat ini mungkin lebih banyak dipengaruhi oleh kecenderungan genetik dari generasi masa lalu, sehingga membuatnya lebih kecanduan dan sulit lagi untuk berhenti.

"Di masa lalu orang merokok untuk berbagai alasan, tapi saat ini perokok cenderung menjadikan rokok sebagai sesuatu yang penting dalam hidupnya sehingga lebih sulit untuk berhenti," ujar profesor sosiologi Fred Pampel dari University of Colorado, seperti dikutip dari Healthland.Time, Sabtu (19/11/2011).

Untuk mengukur sejauh mana faktor genetik bisa mempengaruhi kemampuan perokok untuk berhenti, Pampel dan rekan mempelajari pola konsumsi tembakau dalam rokok pada pasangan kembar.

Studi yang hasilnya dipublikasikan dalam jurnal Demography ini melibatkan 596 pasangan kembar yang mana 363 kembar identik dan 233 kembar fraternal. Peneliti menggunakan kuesioner kesehatan dan perilaku merokok antara tahun 1960-1980.

Peneliti menemukan diantara pasangan kembar identik sekitar 65 persen dari kedua orang kembar ini akan berhenti dalam waktu 2 tahun jika salah satu kembar berhenti merokok, tapi pada kembar fraternal jumlahnya lebih kecil.

Hasil temuan ini menunjukkan bahwa faktor genetik memainkan peran dalam mempengaruhi keberhasilan berhenti merokok. Hal ini karena pada kembar identik DNA nya sama sedangkan pada fraternal tidak.

"Saat ini orang merokok bukan karena alasan sosial, tapi pada kenyataannya cenderung merokok karena ketergantungan mereka terhadap nikotin sehingga lebih sulit untuk berhenti," ujar Pampel.

SUMBER

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More